Buscar

Memuat...

Páginas

Macam-Macam Konflik

1. Menurut Kurt Lewin.


Bila seseorang individu menghadapi dua keinginan/tujuan yang sama-sama menarik tetapi harus tetapi harus dipilih satu diantaranya.
a. Konflik positif-positif.
b. Konflik negatif-negatif.
Konflik ini timbul bila pada saat yang sama seseorang dihadapkan dua alternatif yang sama-sama tidak menarik/sama-sama tidak diinginkan.
c. Konflik positif-negatif.
Terjadi pada saat yang sama individu dihadapkan pada pilihan yang bertolak belakang.
Untuk mengatasi konflik ini, maka cara yang dilakukannya adalah dengan mengkonsumsi gula rendah kalori.
Selanjutnya, Kurt Lewin membedakan konflik berdasarkan isinya sbb :
  • Konflik mengenai (content conflict) isi yang dibicarakan dapat berupa objek, kejadiaan, ataupun orang lain biasanya berbeda diluar pihak-pihak yang berkonflik.
  • Konflik mengenai (relationship conflict) hubungan antara dua pihak, pada situasi ini konflik mengenai hubungan antara mereka khususnya dalam menentukan siapa yang harus berperan, siapa yang harus menentukan, dan siapa yang mengatur.

2.  Menurut Kusnadi.
a.  Konflik menurut hubungannya dengan tujuan organisasi.
  • Konflik fungsional
Konflik yang mendukung tercapainya tujuan organisasi dan sering kali bersifat konstruktif.
  • Konflik disfungsional
Konflik yang menghambat tercapainya tujuan organisasi dan sifatnya destruktif.

3.  Dilihat dari subjeknya.

a.  Konflik Intrapersonal.
Konflik ini timbul dari diri sendiri.  Dalam waktu bersamaan seseorang mempunyai dua keinginan yang sama-sama penting dari keinginan itu harus dipilih satu diantaranya yang paling penting sehingga harus mengalahkan keinginan yang lain.
b.  Konflik Interpersonal.
Konflik ini timbul antar pribadi, konflik ini terjadi antara pribadi dengan pribadi lain yang masing-masing memiliki niat.  Konflik semacam ini sering terjadi di dalam keluarga, masyarakat, organisasi/lembaga formal.
c.  Konflik Intergroup.
Konflik yang dilakukan antara satu kelompok dengan kelompok lain untuk mengejar tujuan yang diinginkan.
Contoh : Konflik agama, suku, ormas-ormas, dll.

4. Konflik menurut hubungannya dengan posisi pelaku konflik.  

a.Konflik vertikal.
Konflik antar tingkatan kelas/kelompok.
Contoh : Konflik antar majikan dengan pembantu.
 b.Konflik horizontal.
Konflik yang terjadi diantara individu/kelompok yang sekelas dan sederajat.
Contoh : Konflik antar ormas yans satu dengan yang lain. 
c. Konflik diagonal.
Konflik yang terjadi karena ketidakadilan alokasi sumber daya ke seluruh organisasi yang menimbulkan pertentangan secara ekstrim dari bagian yang membutuhkan sumber daya tersebut.
5.  Konflik menurut hubungannya dengan struktur organisasi.
  • Konflik hierarki.
Konflik dari berbagai tingkatan (posisi)yang ada di dalam organisasi.
  • Konflik linistaf.
Suatu konflik antar lini dan staf yang ada di dalam organisasi.
  • Konflik formal-informal.
Konflik yang terjadi disetiap organisasi.

6.  Konflik menurut hubungannya dengan sifat dari perilakunya.
  • Konflik terbuka.
Konflik yang dik oleh semua pihak yang ada di dalam organisasi/dik oleh seluruh masyarakat.
  • Konflik tertutup.
Konflik yang dik hanya pihak yang terlibat saja sehingga pihak yang ada di luar tidak mengetahui jika terjadi konflik.
7. Konflik menurut hubungannya dengan waktu.
  • Konflik sesaat/spontan.
Dimana terjadinya konflik ini hanya sesaat atau sementara yang dipicu dari kesalahpahaman yang tidak begitu berarti.
  • Konflik berkelanjutan.
Konflik yang berlangsung sangat lama dan sangat sulit untuk diselesaikan dan harus melalui berbagai tahapan yang sangat rumit.
8. Konflik menurut hubungannya dengan pengendalian konflik.
  • Konflik terkendali.
Suatu konflik dimana pihak yang terlibat dalam konflik dapat dengan mudah mengendalikan konflik sehingga konflik selesai/tidak meluas.
  • Konflik tidak terkendali.
Suatu konflik dimana pihak yang terlibat dalam konflik tidak dapat dengan mudah mengendalikan konflik sehingga konflik tidak selesai/bahkan semakin Meluas.
9. Konflik menurut hubungannya dengan sistematik.
  • Konflik non-sistematis.
Konflik yang bersifat acak konflik terjadi secara spontanitas, tidak ada yang mengomando, dan tidak ada tujuan tertentu yang ditargetkan.
  • Konflik sistematis.
Konflik yang bersifat sistematis, terjadinya konflik telah direncanakan, diprogram secara sistematis, ada yang mengomando, dan ada tujuan yang ditargetkan.
10. Konflik menurut hubungan dengan tujuan.
  • Konflik pendekatan-pendekatan.  Ketika konflik ini terjadi, pihak yang berkonflik masih berkinerja kearah tujuan yang sama.
  • Konflik pendekatan-penghindaran.  Konflik ini terjadi dari dua pihak yang berkonflik yang sering berseberangan di dalam mencapai tujuannya.
  • Konflik penghindaran-penghindaran.  Konflik ini terjadi ketika pihak yang berkonflik sama-sama bukan untuk mencapai tujuan organisasi.
11. Konflik menurut hubungannya dengan konsentrasi aktivitas.
Manusia dalam masyarakat.
  • Konflik ekonomi.
Konflik yang disebabkan oleh adanya perbuatan sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonflik.
Misal : Perusahaan deterjen tetapi berbeda merek berusaha pasar dengan iklan-iklan yang lancar.
  • Konflik politik.
Konflik yang dipicu oleh adanya kepentingan politik dari pihak yang berkonflik.
Misal ; Perebutan massa dalam kampanye.
  • Konflik budaya.
Konflik yang disebabkan oleh adanya perbedaan kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik.
  • Konflik pertahanan.
Konflik yang dipicu adanya perebutan hegemoni dari pihak yang berkonflik.
Misal : Pecahnya perang Irak dengan pasukan multinasional dan AS saat Irak mencaplok Kuait serta perang antara Israel dengan Palestina.
  •  Konflik antar umat beragama.
Konflik yang dipicu oleh adanya sentimen agama.
Misal ; Terjadinya perang Salib.

  1. Konflik menurut hubungannya dengan pelaku.
  • Konflik di dalam diri sendiri.
Konflik di dalam diri sendiri dapat terjadi sebagai akibat dari konflik efektif, yaitu konflik yang terjadi karena ketidakmampuan emosional sebagai akibat dari tidak tercapainya sasaran, yaitu meningkatnya stres, darimenurunnya produktivitas, atau menurunnya kepuasan pribadi.
Konflik dalam diri sendiri terjadi sebagai akibat dari konflik kognitif, yaitu konflik yang tidak secara intelektual tetapi karena keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga (sumber daya) ia harus menerima kegagalan.
  • Konflik antar pribadi.
Terjadi apabila dua orang individu tidak setuju atas suatu permasalahan, rencaba kerja/tujuan kerja, yang berasal dari perbedaan persepsi, kedudukan.
  • Konflik di dalam kelompok.
Dapat terjadi ketika keputusan kelompok tidak sejalan dengan keinginan satu atau dua individu di dalam kelompok tersebut.  Konflik di dalam juga dapat berasal dari konflik efektif dimana terdapat respon emosional atas situasi yang terjadi dalam kelompok.
  • Konflik di dalam organisasi.
Konflik ini dapat berubah vertikal, seperti konflik antara manajer dan stafnya atau konflik horizontal yaitu konflik antara sesama pegawai di dalam organisasi pada tingkat yang sama, dalam/antar direktorat.  Konflik lain yaitu konflik diagonal atau konflik lini staf.
  • Konflik antar organisasi.
Konflik yang biasa terjadi antara organisasi-organisasi yang memiliki keterlibatan sangat erat dalam menjalankan suatu bisnis, seperti : antara perusahaan dan antara pesaingnya, perusahaan pemasok/perusahaan pelanggannya.
Bentuk khusus dari klasifikasi konflik antar organisasi yaitu :
  • Konflik pribadi.  Konflik yang dapat menimbulkan perkelahian, penghinaan/pengejekan
  • Konflik rasial.  Konflik yang timbul karena adanya perbedaan-perbedaan diantara kedua pihak dan masing-masing pihak menyadarinya.
  • Konflik antara kelas sosial.  Misal : Konflik antara majikan dengan buruh yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan.
  • Konflik politik.  Konflik yang terjadi diantara golongan dalam suatu masyarakat.
  • Konflik yang bersifat internasional.  Konflik ini dapat terjadi diantara dua Negara yang mempunyai kepentingan yang berbeda dan berpengaruh terhadap kedaulatan negara tersebut.
  • Konflik antar generasi.  Misal :
-          Konflik antara bapak dengan anak.
-          Konflik rengas Dengklok antara generasi muda dan generasi tua.
  • Konflik antar golongan.  Misal : Konflik antar bangsawan dengan proletar (buruh).
  • Konflik antar budaya,
  • Konflik antar ras.  Misal : Diskriminasi ras, politik Aparte di Afrika Selatan.
Strategi Mengatasi Konflik.
Terelepas dari makna positif dan negatif dari konflik ada beberapa cara mengatasi konflik, yaitu dengan cara yang produktif dan cara yang tidak produktif.

a.  Beberapa cara yang produktif antara lain sbb :
1.  Withdrawal.
Yaitu dengan menunggu sambil berusaha memahami situasi setelah kira-kira mampu dan yakin dapat berhasil baru melangkah ubtuk mengatasinya.
2.  Assertif.
Yaitu berusaha mengatasi secara tegas dan dengan cara yang baik, serta berusaha membina hubungan yang baik dengan pihak lain ditandai dengan adanya kemauan baik untuk saling mengerti dan memahami alasan, pertimbangan, dan kepentingan pihak lain tersebut.
3.  Adjusting.
Yaitu berusaha menyesuaikan diri dengan pihak lain.

b.  Cara yang tidak produktif adalah sebagai berikut :
1.  Avoilance (menolak adanya konflik).
Cara ini termasuk cara yang paling sering dilakukan, bentuknya dapat berupa lari secara fisik.  Misi menghindarkan diri, menjauhkan diri tidak mengimbangi atau melayani orang yang sedang marah.

  1. Force (menggunakan kekuatan).
Penyelesaikan konflik dengan cara ini biasanya menggunakan kekuatan fisik, ancaman, teror, dan paksaan.  Biasanya hanya selesai dalam seketika saja dan pihak-pihak yang dirugikan merasakan luka dan menyimpan dendam.  Suatu ketika dendam itu akan muncul ke permukaan tidak hanya berupa konflik saja tetapi bisa disertai dengan kekerasan sebagai balas dendam.
  1. Mengabaikan adanya konflik.
Cara ini menganggap seolah-olah konflik yang ada tidak terlalu penting dan tidak perlu dipikirkan secara serius, biarlah konflik hilang dengan sendirinya.

  1. Blame (menyalahkan orang lain).
Kadang-kadang sumber konflik tidak jelas darimana datangnya dan apa penyebabnya.  Hanya karena emosi kemudian dengan menyalahkan orang lain.

  1. Silencers (bersikap supaya orang lain diam).
Cara yang biasanya digunakan menangis dihadapan lawan atau menggunakan kata-kata sarkasme yang menyinggung masalah pribadi sehingga pihak lawan kemudian berdiam diri karena merasa malu tidak mau meladeni konflik yang terjadi.
Disamping cara-cara diatas, ada yang menganggap bahwa konflik itu dapat diselesaikan denga cara sebagai berikut :
a.  Win-Win Solution.
Cara ini dilakukan oleh setiap pihak dengan mengambil sikap ingin menang.  Misal : Konflik antara Irak dan Amerika, kedua negara ini tidak ada yang mau mengalah akhirnya terjadi peperangan.

b.  Win-Lose Solution.
Cara ini dilakukan oleh pihak yang terlibat konflik dengan mengambil sikap salah satu pihak mengalah dengan pertimbangan untuk menjaga ketentraman dan menjaga kelangsungan hidup hubungan yang baik.
c.  Lose-Lose Solution.
Cara ini dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik dengan mengambil sikap keduanya sama-sama pada posisi mengalah, tidak ada yang merasa menang dan tidak ada yang merasa kalah.

0 komentar:

Poskan Komentar